Skip to content

Region of Graecia Magna

Sebelum kita mengenali filsuf Yunani berikutnya. Alangkah baiknya, telebih dahulu kita menambahkan daya jelajah kita terhadap wilayah Yunani kuno. Perlu diingatkan jangan sekali-kali kita mengira luas wilayah negeri Yunani kuno sama luasnya dengan negara Yunani saat ini. Pernah disebutkan sebelumnya bahwa negeri Yunani kuno dikenal sebagai Graecia Magna (Yunani Raya). Berikut adalah peta dari negeri Yunani Raya :


Dari gambar peta di atas, dapat kita ketahui bahwa wilayah Yunani Raya benar-benar luas hingga meliputi kawasan Asia Barat dan Afrika Utara. Berikut adalah perbatasan-perbatasan yang dimiliki Yunani Raya: perbatasan barat berada di wilayah Italia (Neapolis) dan Pulau Sisilia (Akragas), perbatasan utara berada di wilayah Makedonia, perbatasan selatan berada di wilayah Afrika Utara (Alexandria), dan perbatasan timur berada di wilayah Asia Barat (Kypros) dan Pulau Rhodos.

Fakta sejarah mengungkapkan bahwa luasnya wilayah Yunani Raya disebabkan karena  banyak dari suku Ionia (suku asli orang Yunani) bermigrasi ke daerah-daerah yang baru. Penyebab paling utama dari perpindahan tersebut adalah terjadinya penyerbuan suku Doria ke daratan Yunani (1100-1000 SM), sehingga mau tidak mau penyerbuan tersebut telah memaksakan suku Ionia berkenalan dengan wilayah yang baru. Lalu penyebab berikutnya adalah permasalahan ekonomi, perlu diketahui bahwasannya sebagian besar daratan Yunani terdiri dari pegunungan yang gundul dan  tanah yang tidak dapat diolah.  Karena faktor itulah, banyak sekali dari mereka menjadi pelaut-pelaut yang handal sehingga dengan mudah mereka dapat pindah ke daerah-daerah yang baru.

Tak lupa juga, ‘kota’ (Greek : polis) yang berada di wilayah Yunani Raya pada dasarnya bersifat otonom, walaupun tak sedikit juga ada kota yang memiliki hubungan dengan kota lainnya, seperti hubungan antara kota baru (kota perantauan) dengan kota lama (kota asli para perantau). Sehingga dengan sifat yang otonom itulah,  kita tidak dapat mengatakan bahwa para perantau disebut juga sebagai penjajah.

Anaximenes

Tak lengkap rasanya ketika kita membahas filsuf alam tanpa tokoh yang satu ini, dia tak lain adalah Anaximenes (585 SM). Anaximenes berasal dari Miletus, seperti Thales dan Anaximander. Konon katanya ia adalah murid dari Anaximander, tetapi yang jelas umur Anaximenes lebih muda dari Anaximander. Para ilmuwan zaman modern kerap mengatakan pemikirannya kurang menarik dibandingkan dengan gurunya.

Anaximenes juga membuat arkhê (prinsip), sama seperti dua pendahulunya Thales dan Anaximander. Prinsip yang ia pilih adalah udara, karena udara adalah asal usul segala sesuatu. Ia menganggap bahwa jiwa tak lain adalah udara, ketika kita bernapas sebenarnya jiwa sedang dipupuk oleh udara. Anaximenes beranggapan  bumi juga bernapas layaknya manusia karena udara lah yang menyelimuti bumi.

Hal yang paling menarik dari pemikirannya adalah proses “pemadatan dan pengenceran” udara. Anaximenes menganggap bahwa api adalah udara yang encer, jika udara dipadatkan akan menjadi air, dan jika udara dipadatkan lagi akan menjadi tanah, dan jika udara terus dipadatkan akan menjadi batu. Hal ini merupakan prestasi dari pemikiran Anaximenes karena dia sudah mampu mengutarakan kejadian fisis alam semesta, walaupun kita tahu pemikiran dari Anaximenes ini terlalu spekulatif.

Dalam teori astronominya ia berpendapat bahwa bumi itu seperti meja bundar yang melayang di udara. Lalu Matahari, bulan dan bitang ia gambarkan bagaikan daun yang sedang melayang di udara. Saat malam hari Anaximenes menganggap bahwa matahari sedang menghilang karena terhalang oleh bagian yang tinggi. Pada dasarnya apa yang dihipotesiskan oleh Anaximenes tentu terdengar aneh oleh kita, tetapi ini merupakan sebuah persiapan bagi manusia untuk memahami lebih lanjut tentang rahasia alam.

Anaximander

Filsuf selanjutnya yang akan kita bahas adalah Anaximander (Greek : Anaximandros, Abad ke-6 SM), ia juga tergolong sebagai filsuf alam seperti Thales dan Anaximenes. Anaximander juga berasal dari Miletus karena ia adalah murid dari Thales. Banyak yang mengatakan dia memiliki cara pikir yang lebih menarik dibandingkan gurunya, Thales. Anaximander adalah orang yang sangat berjasa dalam bidang astronomi dan geografi, konon katanya Anaximander adalah orang pertama yang membuat peta.

Karena Anaximander adalah salah satu filsuf alam, maka ia juga mencari arkhê (prinsip) di dalam ajarannya. Prinsip Anaximander sangat berbeda dengan gurunya, yakni yang tak terbatas (Greek : to apeiron). Dia berpandangan jika ia mengambil prinsip yang sama seperti gurunya yaitu air, maka unsur air tersebut akan mengalahkan unsur-unsur yang lain, seperti tanah, udara, dan api. Menurut Aristoteles, Anaximander mengatakan unsur-unsur air, tanah, udara, dan api itu saling bertentangan, dimana air bersifat basah, tanah bersifat kering, udara bersifat dingin, dan api bersifat panas. Oleh karena itu, jika hanya satu unsur saja yang dominan, maka unsur yang lain akan hilang.

Dalam gagasannya tentang “keadilan” (Greek : adikia). Anaximander beranggapan bahwa di dunia  ini memiliki unsur-unsur yang seimbang, seperti air, tanah, udara, dan api. Unsur-unsur tersebut pada dasarnya ingin selalu menjadi yang paling dominan, tetapi hal itu tidak akan terjadi karena ada suatu keseimbangan hukum di alam ini, contohnya jika api yang lebih dominan, maka ada abu sebagai penjaga keseimbangannya, yang mana hal itu tak lain adalah tanah.

Selain gagasannya tentang keadilan, Anaximander juga mengutarakan sebuah konsep teori evolusi. Dia beranggapan bahwa awal mula terjadinya kehidupan mahkluk hidup di bumi ini berasal dari unsur air, dimana bentuk pertama kali adalah ikan. Kemunculan manusia, seperti binatang lainnya juga, bahwasannya manusia itu dibesarkan terlebih dahulu di badan seekor ikan sebelum ia dilemparkan untuk hidup di daratan. Ini dikarenakan masa bayi manusia yang cukup lama, jadi tak mungkin dapat bertahan hidup tanpa ada yang memeliharanya. Anaximander beranggapan seperti itu dari hasil observasinya di lautan Yunani, yang mana seekor ikan hiu itu melindungi anak-anaknya di dalam badannya.

Ditambahkan Anaximander pada dasarnya memiliki rasa keingintahuan yang lebih besar terhadap astronomi. Ia berpendapat bahwa bumi itu berbentuk silinder dan tidak bersandar dengan sesuatu apapun. Lalu kenapa bumi tidak terjatuh? dia mengatakan karena memang kedudukan bumi berada tepat dalam pusat jagad raya. Selain itu Anaximander juga sering menyatakan kalau  ukuran matahari itu sama dengan bumi atau 27 kali lipat lebih besar. Walaupun semua pemikiran Anaximander kedengarannya tampak aneh, tetapi ini adalah modal besar bagi umat manusia dalam membuka jalan baru untuk memahami dunia.

Thales

Kita sebelumnya sudah mengetahui makna yang ada di balik kata “filsuf”, kali ini saatnya saya mulai memperkenalkan satu demi satu pemikiran orang-orang yang mencintai kebijaksanaan. Saya akan memulainya dari orang yang diberi gelar sebagai filsuf pertama.

Filsuf pertama tentulah seorang yang berkebangsaan Yunani, karena seperti kita tahu di Yunani pertama kali filsafat mendunia. Thales adalah seorang yang berkembangsaan Miletus, sekarang daerah Turki, tetapi dulunya tergabung dalam Graecia Magna (Yunani Raya). Thales disebut-sebut sebagai tujuh orang bijaksana di Yunani pada abad ke-6 SM.

Aristoteles memberitahukan kepada kita bahwasannya Thales adalah salah satu filsuf yang mencari arkhê (prinsip). Prinsip yang ia maksud adalah air. Thales beranggapan pada dasarnya unsur yang ada di alam semesta ini berasal dari air. Oleh karena itu, ia dijuluki sebagai salah satu filsuf alam.

Mungkin terdengar aneh untuk kita bahwa unsur dasar alam semesta hanya berasal dari satu unsur saja, yang tak lain hanyalah air, tetapi ini juga bukan hipotesis yang bodoh untuk kita terima. Apalagi di zaman modern pernah berpandangan bahwa segala sesuatu terbuat dari hidrogen, yang dua pertiganya berasal dari air. Thales juga berpendapat bahwasannya “bumi itu berasal dari air“, selain kita bisa terima anggapan Thales bahwa segala sesuatu berasal dari air, pastilah dia melihat aspek fisis bumi yang setiap sisi daratan itu dikelilingi oleh lautan yang luas.

Beberapa pemikiran Thales yang lain adalah Thales pernah meramalkan suatu gerhana matahari pada tahun 585 SM, bisa diandaikan dia meramalkan hal ini setahun sebelumnya. Ini bukti kejeniusan dari seorang Thales, karena tak ada bukti sejarah yang pernah melakukan ini sebelumnya, walaupun Thales sendiri tidak begitu tahu persis kejadian fisis gerhana matahari. Dikabarkan Thales juga bersentuhan dengan ilmu ukur, dimana dia pernah mengukur tinggi piramid dengan bayangan piramid serta dia melakukan observasi penghitungan jarak perahu di lautan yang dilakukannya di dua tempat daratan. Banyak rumus ilmu ukur yang dibuat oleh Thales, namun rumus tersebut nampaknya masih banyak yang keliru.

Selain itu dia juga mengatakan bahwa “dunia ini penuh dengan Dewa-Dewa”, Aristoteles mencoba memaknai hal ini dengan bumi ini memiliki jiwa seperti layaknya makhluk yang tinggal di dalamnya, ini dikarenakan bumi dapat menarik besi. Tentu kita tahu bahwasannya bumi memiliki medan magnet.

Sedikit legenda mengenai Thales yang dituangkan oleh Aristoteles di dalam karyanya yang berjudul Politics, “Ia dicemoohkan karena kemiskinannya, dikarenakan banyak yang menganggap filsafat itu tidak berguna. Namun, karena dia menguasai astronomi, ketika terjadi musim dingin tentulah dia mengetahui akan terjadi panen buah zaitun di tahun depan. Demikianlah, dengan uang yang  tidak banyak dia menyewa semua alat pengolah zaitun di Chios dan Miletus dengan harga yang murah karena tak seorang pun sedang membutuhkannya. Ketika panen tiba banyak orang yang membutuhkan alat itu dengan segera, ia pun akhirnya melepaskan alat-alat itu sesuka hatinya dan menghasilkan banyak uang. Jadi ia membuktikan pada dunia bahwa para filsuf bisa kaya dengan gampang jika mereka mau. Hanya saja ambisi seorang filsuf menuju ke arah yang lain.”

The Greek Miracle

Anda mungkin terheran-heran, kenapa di negeri Yunani terjadi sebuah peristiwa keajaiban? Tentu Anda akan keliru jika kata “keajaiban” di sini Anda maksudkan sebagai  sesuatu yang sarat akan nuansa magis, karena maksud dari peristiwa keajaiban Yunani adalah mendunianya filsafat untuk pertama kali di bumi ini oleh bangsa Yunani.

Penanda kelahiran filsafat di negeri Yunani ditandai dengan adanya pergantian “mitos (kepercayaan) menjadi logos (akal)”, inilah yang harus dipahami. Mitos dapat tergantikan dengan logos karena mitos tidak dapat dijadikan jawaban yang memuaskan bagi orang-orang Yunani. Sebagai contoh, sebelum kedatangan logos orang-orang Yunani hanya mengetahui bahwa kejadian-kejadian di alam (kosmologis) disebabkan oleh Dewa-Dewa mereka yang sedang murka. Tentulah atas latar belakang ketidakpuasan ini, orang-orang Yunani akhirnya mencari-cari jawaban  baru yang lebih meyakinkan, yakni menggunakan rasio (akal) mereka.

Kita juga tidak boleh melupakan kesuksesannya bangsa Yunani dalam menghadirkan filsafat adalah pengaruh ilmu pengetahuan yang berasal dari negara-negara tetangganya,  yakni Mesopotamia dan Mesir. Pengaruh yang didapatkan Yunani masing-masing adalah astronomi dari Mesopotamia dan ilmu ukur dari Mesir.

Anda pasti akan bertanya-tanya, kenapa bukan Mesopotamia atau Mesir atau bahkan keduanya sebagai tempat pertama kali filsafat turun ke dunia? Tentu tidaklah bijaksana kalau kita mengatakan hal itu. Karena bagaimanapun sejarah telah mengatakan bahwa orang-orang Yunani lah yang pertama kali mengolah pengetahuan secara sistematis, sehingga pengetahuan itu menjadi sebuah corak ilmu yang benar-benar ilmiah.

Astronomi dan ilmu ukur yang masing-masing ada di Mesopotamia dan Mesir pada dasarnya hanya digunakan dalam bentuk praktis. Mereka menggunakan pengetahuan tersebut hanya untuk keberlangsungan hidup mereka saja, sebagai contoh orang Mesir menggunakan pengetahuannya hanya untuk mengukur tanah mereka setelah terjadinya bajir di Sungai Nil, sedangkan  orang Yunani menggunakan cara mengukur tersebut untuk diterapkan dan dikembangkan menjadi sebuah rumusan yang sistematis (sains). Jadi mau tidak mau, kita tidak bisa menyangkal bahwa bangsa Yunani lah yang secara mencengangkan dapat melahirkan filsafat di dunia ini.

Philosopher

Man was thingking

Ilustrasi

Mungkin sudah tak asing lagi bagi telinga kita untuk mendengarkan sepenggal kata yaitu filsuf. Arah pikiran kita pasti akan langsung tertuju kepada sesosok manusia yang memiliki talenta pemikiran yang luar biasa. Tahukah Anda? bahwasannya filsuf yang berasal dari bahasa Yunani “philosophos” (Inggris : philosopher) itu tidak memiliki arti “pemikir” sama sekali, melainkan  pencinta kebijaksanaan, kenapa? karena hal ini tak lain berhubungan erat dengan kata “filsafat”, dalam bahasa Yunani berarti “philosophia” (Inggris : philosophy) yang artinya adalah cinta kebijaksanaan.

Konon kata “filsuf” ini pertama kali digunakan oleh Phytagoras (Abad ke-6 SM). Sayangnya bukti-bukti sejarah ini tidak dapat mengungkapkan faktanya secara lugas, karena Phytagoras sering kali mencampuri kata “filsuf” dengan beragam mitos (kepercayaan). Mitos itu sendiri dianggap orang Yunani tidak bijaksana dalam menjawab berbagai macam hal, yang salah satunya adalah jawaban atas kejadian-kejadian alam (kosmologis), seperti “hujan turun karena Dewa Zeus sedang menangis”, ini sangatlah mustahil. Oleh karena itu, bagi orang-orang Yunani  untuk menjawab berbagai permasalahan secara bijaksana haruslah menggunakan rasio (akal),  bukan dengan mitos. Jadi bagaimana mungkin seorang pecinta kebijaksanaan itu sering menjawab permasalahan dengan tidak bijaksana? disinilah titik yang dipermasalahkan.

Pastinya kata “filsuf” ini sudah lazim digunakan di kalangan Sokrates dan Plato (Abad ke-5 SM).  Kita dapat melihatnya di dalam dialog Plato yang berjudul Phaidros : “Nama ‘orang bijaksana’ terlalu luhur untuk memanggil seorang manusia karena itu lebih cocok untuk seorang Dewa. Lebih baik ia dipanggil philosophos, karena nama ini lebih layak untuk makhluk insani.”

Maksud dari penggalan fragmen di atas adalah kita sebagai manusia pasti memiliki keterbatasan dalam kebijaksanaan, sudah barang tentu kebijaksanaan manusia tidak  akan bisa dibandingkan dengan kebijaksanaan Dewa ataupun Tuhan. Jadi sudah sepantasnya kita sebagai manusia sadar bahwasannya kita hanya bisa menjadi pecinta sebuah kebijaksanaan (philosophos). Karena itu kita tidak akan pernah menemukan kebijaksanaan yang sejati di hidup ini, dan tak akan jadi masalah jika kebijaksanaan antara satu filsuf dengan filsuf yang lain dapat memiliki perbedaan yang sangat tajam.

Kasak-kusuk

Sangat disayangkan karena masih banyak masyarakat Indonesia yang salah kaprah dengan ilmu pengetahuan yang satu ini, tak lain adalah Ilmu Filsafat. Kebanyakan mindset dari pemikiran mereka yaitu selalu mengaitkannya Ilmu Filsafat dengan permasalahan tentang “keberadaan Tuhan”. Sehingga mau tidak mau pastilah mereka mempunyai rasa khawatir  yang berlebihan untuk mempelajarinya.

Mayoritas argumentasi mereka adalah kekhawatiran diri mereka yang nantinya akan menjadi seorang “atheist” setelah mempelajari ilmu ini. Padahal ketika mempelajari Ilmu Filsafat, Anda tidak hanya disuguhkan dengan pemikiran-pemikiran anti-Tuhan, melainkan disuguhkan juga pemikiran-pemikiran pro-Tuhan yang mana argumentasinya pun tidak kalah kuat dari pemikiran anti-Tuhan.

Lagi pula, masalah “keberadaan Tuhan” hanya satu dari sejuta permasalahan yang  dibahas oleh Ilmu Filsafat. Jadi kenapa Anda harus takut untuk lebih jauh mengetahui ilmu ini. Ditambah lagi semua cabang ilmu pengetahuan, baik itu ilmu alam (fisika, kimia, biologi, geografi, astronomi, dll) dan ilmu manusia (psikologi, sosiologi, hukum, ekonomi,  politik, budaya, linguistik, dll) pastilah terkandung ilmu filsafat. Oleh karena itu, ilmu ini sering dijuluki sebagai “mother of science” dan tak khayal kalau anda pernah mendengar beberapa cabang filsafat, seperti filsafat matematika, filsafat biologi, filsafat hukum, filsafat linguistik, dll.

Masyarakat juga banyak yang beranggapan bahwasannya Ilmu Filsafat adalah ilmu yang sangat membosankan karena pemabahasannya yang alot dan bahasanya yang berputar-putar. Saya pun akan menjawab “iya, tapi tidak semuanya”, karena banyak juga bahasan filsafat yang  sangat menarik dan tidak membosankan, salah satu contohnya adalah eksistensialisme Martin Buber. Lalu kenapa saya tadi menjawab “iya”? karena masalah yang dibahas oleh Ilmu Filsafat sampai pada ke akar permasalahan, jadi mau tidak mau membuat otak kita bekerja sedikit ekstrim untuk benar-benar memahami permasalahan yang sedang dibahas.

Itulah salah satu latar belakang kenapa blog ini dibuat. Blog ini sengaja dibuat hanya untuk memperkenalkan kepada Anda beberapa permasalahan yang berada di dunia filsafat, dan saya pun terus berharap semoga beberapa tahun ke depan ilmu ini dapat berkembang di tengah masyarakat Indonesia, Amin.